Tuesday, July 9, 2013

Orang - Orang Kudus

Orang-Orang Kudus
(Santa-Santo) 

Apakah Alkitabiah meminta para Kudus berdoa untuk kita? Katolik Menjawab "ya" karena kita merupakan satu kesatuan bagian dalam Komunitas Para Kudus. Hal ini ditegaskan pula dalam Kredo / Syahadat.

Persekutuan Para Kudus
Persekutuan Para Kudus menunjukan kesatuan antara semua orang yang percaya kepada Yesus baik yang masih hidup ataupun yang telah meninggal. Dalam Kristus kita semua adalah satu Keluarga (1 Timotius 3:15), kita Adalah Anak-anak Allah (1 Yohanes 3:1), bersama-sama dengan Kristus (Roma 8:17) dan Mengambil bagian dalam Kodrat Ilahi (2 Pet 1:4). Persekutuan para Kudus ini yang disebut sebagai tubuh Mistik Kristus (bdk 1Kor10:16 ; Gal3:28 ; 4:15-16 ; 3:15). Dengan Gambaran Pokok Anggur yang benar dalam Yohanes 15:1-8 disana menunjukan gambaran Yesus sebagai Pokok Anggur dan Kita Ranting-Rantingnya ini menunjukkan sesuatu hubungan yang sangat erat antara kita yang satu dengan yang lainnya (termasuk dengan yang sudah meninggal) dengan Yesus sebagai Pokok Anggurnya. St. Paulus menekankan tentang Kesatuan tubuh Kristus pada 1 Kor 12:12-27 dan Rom 12:4-16 dan kesatuan itu tidak dapat dipisahkan oleh apapun (Rom 8:35-39) dan kesatuan itu dibangun atas dasar kasih (Rom 12:10 ; 1 Tes 5:15 ; Gal 6:2)


Perantaraan Doa
Dari uraian tentang Persekutuan para Kudus maka kita boleh berdoa kepada Yesus melalui mereka sebagai Ilustrasi: ada seorang memiliki Masalah orang itu bisa saja berdoa langsung kepada Allah tetapi ia meminta seorang Pastor berdoa untuknya.
dalam Kitab Suci contohnya:

A. Dalam Perjanjian Lama:

1.Abraham berdoa untuk kepentingan penduduk kota Sodom dan Gomora (Kej 18:16-33).

2.Musa sering berdoa untuk kepentingan umat Israel, antara lain untuk memintakan ampun setelah bangsa itu berdosa dan akan dipunahkan oleh Tuhan (Kel 32:11-14).

3. Bangsa Israel minta kepada Samuel, "Berdoalah untuk hamba-hambamu ini kepada TUHAN, Allahmu, supaya kami jangan mati ... (1 Sam 12:19).

4.dan sebagainya.

B. Dalam Perjanjian Baru:

1.Yesus berdoa untuk para murid-Nya dan untuk dunia (Yoh 17).

2.Paulus senantiasa berdoa bagi umatnya (Rm 1:10 : Ef 1:16dsb). Sebaliknya, Paulus juga sadar bahwa keselamatannya tergantung juga pada doa-doa umatnya (Fil 1:19); oleh karena Itu ia pun minta supaya umatnya berdoa baginya (1 Tes 5:25 ; 2 Tes 3:1 dsb).

3.Yak 5:14-16 berbunyi: "Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan ... Karena itu hendaklah kamu... saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya."

4.1 Tim 2:1 berbunyi "Naikkanlah permohonan doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang..."

jadi hakekat berdoa kepada Santo / Santa adalah kita meminta Santo / Santa memohonkan / menyampaikan doa-doa kita kepada Yesus (Allah) hal semacam ini tidak bertentangan dengan 1 Timotius 2:5. Dalam Wahyu 5:8 dan Why 8:3-4 menunjukkan bahwa doa kita dapat sampai kepada Allah juga melalui perantaraan Mahluk Surgawi. Paham ini tidak bertentangan juga dengan Ula 18:10-11 karena ini bukan praktek memanggil arwah orang mati, berkomunikasi dengan arwah, dll. Dalam Ula 18:10-11 itu adalah hal-hal yang sangat dipaksakan dan tidak wajar (memanggil arwah dari dunia bawah "syeol") oleh karena itu praktek ini dikecam oleh Allah sedangkan paham Katolik berdoa kepada Santo / Santa karena kita memiliki keyakinan bahwa mereka itu tidak mati tetapi hidup karena Allah kita adalah Allah orang Hidup bukan Allah orang Mati (Mrk 12:26-27) dalam Mrk9:4 Yesus bercakap-cakap dengan Elia & Musa padahal mereka sudah lama meninggalkan dunia ini (apakah Yesus memanggil Arwah ? tentu saja tidak) ini menunjukkan bahwa meskipun orang itu sudah mati sebenarnya ia itu hidup "Barangsiapa Percaya kepadaku ia akan hidup walaupun sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan percaya kepadaKu tidak akan Mati selama-lamanya" (Yoh 11:25-26). Kita Berdoa kepada Orang Kudus karena kita percaya "Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya." (Yak 5:16) mereka yang sudah ada didalam surga tentu saja sudah bebas dari dosa dan mereka sudah memandang Allah dari wajah ke wajah tentu saja mereka itu orang benar maka dari itu kita meminta bantuan mereka untuk mendoakan kita kepada Yesus.

Disadur dari www.ekaristi.org

Wednesday, December 26, 2012

Asal-usul Perayaan Natal, Christmas Was Never a Pagan Holiday.



Asal-usul Perayaan Natal, Christmas Was Never a Pagan Holiday.

(dikutip dari tulisan Robby Kristian Sihotang di Indonesianpapist.com)
Gereja menetapkan tanggal 25 Desember sebagai Hari Raya Natal untuk merayakan Hari Kelahiran Yesus Kristus. Gereja Katolik telah merayakan Natal sejak abad-abad pertama Gereja Katolik hadir. Daniel Rops, seorang sejarawan dari Prancis, mengatakan bahwa pada masa penganiayaan Gereja Katolik sampai keluarnya Edict Milan (313) yang memberikan kebebasan beragama kepada Gereja Katolik, umat Katolik telah merayakan Natal secara sembunyi-sembunyi di Katakombe-katakombe (makam bawah tanah) yang ada di Kekaisaran Romawi.  [Daniel Rops, Prières des Premiers Chrétiens, Paris: Fayard, 1952, pp. 125-127, 228-229].

Mendukung pernyataan Daniel Rops ini, saya tampilkan sebuah lukisan fresco abad ke-2 dari Gereja Katakombe St. Priscilla di Roma yang menggambarkan Nativity of Christ atau Kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus. 

Bapa Gereja Teofilus, Uskup Caesarea di Palestina (115-181 M), yang hidup dalam masa pemerintahan Kaisar Commodus mungkin adalah orang pertama yang secara eksplisit memberikan pernyataan mengenai Natal: 
“Kita harus merayakan hari kelahiran Tuhan kita pada tanggal 25 Desember yang akan berlangsung.” [Magdeurgenses, Cent. 2.c.6. Hospinian, de Origin Festorum Christianorum]
Sextus Julius Africanus (220 AD), walau tidak berbicara mengenai adanya perayaan Natal, ia secara implisit menyatakan bahwa 25 Desember sebagai tanggal kelahiran Kristus. Dalam bukunya Chronographia, ia mengatakan bahwa dunia diciptakan pada tanggal 25  Maret berdasarkan kronologi Yahudi dan sejarah Kristen Perdana. Ia mengatakan bahwa pada tanggal 25 Maret ini, Sang Firman Allah menjelma menjadi manusia; hal ini membuat sense simbolis yang sempurna karena pada saat Penjelmaan ini, penciptaan yang baru dimulai. Berdasarkan Julius Africanus, karena Sang Firman Allah menjelma menjadi manusia sejak masa Dia dikandung oleh Perawan Maria, hal ini berarti setelah 9 bulan, Sang Firman Allah yang telah menjadi manusia itu lahir pada tanggal 25 Desember.

St. Hipolitus dari Roma, pentobat yang dulunya seorang anti-Paus pada masa penggembalaan Paus St. Zephyrinus, Paus St. Kallistus I, Paus St. Urbanus I dan Paus St. Pontianus, secara eksplisit juga menyatakan bahwa Yesus Kristus lahir pada tanggal 25 Desember:
Untuk kedatangan pertama Tuhan kita dalam daging, [terjadi] ketika Ia lahir di Betlehem, eight days before the kalends of January (25 Desember), hari keempat (Rabu) dalam minggu ketika Augustus (kaisar Romawi) dalam 42 tahun [pemerintahannya] tetapi dari Adam 5500 tahun. Ia (Yesus) menderita pada [usia] 33 tahun, eight days before the kalends of April (25 Maret), tahun kelimabelas Kaisar Tiberius ketika Rufus dan Roubellion dan Gaius Caesar, untuk keempat kalinya, dan Gaius Cestius Saturninus menjadi konsul [di Roma]. (St. Hippolytus of Rome (c. 225 AD), Commentary on Daniel 4.23.3)

Sedangkan, Bapa Gereja Yohanes, Uskup Nicea, memberitahu kita bahwa Paus St. Julius I (336-352) dengan bantuan tulisan-tulisan dari sejarawan Yahudi, Josephus, telah memastikan bahwa Kristus lahir pada tanggal 25 Desember.

Pada akhir abad keempat, Uskup Epifanius dari Salamis (salah satu sejarahwan Gereja) memberikan kronologi kehidupan Tuhan Yesus Kristus di mana menurut Kalender Julian (saat ini Gereja Katolik Roma menggunakan Kalender Gregorian) tanggal 6 Januari adalah hari kelahiran Tuhan dan 8 November adalah hari pembaptisan Tuhan di Sungai Yordan.

Pada permulaan abad kelima, biarawan terpelajar, St. Yohanes Kassianus dari Konstantinopel, pergi ke Mesir untuk mempelajari peraturan-peraturan biara di sana. Antara tahun 418 hingga 425, St. Yohanes Kassianus menulis laporan pengamatannya. Dia memberitahukan kita bahwa uskup-uskup di wilayah itu, pada masa tersebut, menganggap Pesta Epifani (Penampakan Tuhan) sebagai hari kelahiran Tuhan dan tidak ada perayaan terpisah dalam menghormati kelahiran Tuhan. Dia menyebut hal ini “tradisi kuno”. Kebiasaan lama ini segera memberi jalan bagi tradisi baru. Sementara mengunjungi St. Sirillus, Patriark Alexandria; Uskup Paulus dari Emesa berkhotbah pada perayaan kelahiran Tuhan Yesus pada 25 Desember tahun 432 M. Natal telah diperkenalkan kepada Mesir sebelum waktu kunjungan ini, dapat dikatakan sekitar 418 dan 432 M dan peristiwa ini menjadi bukti kuat berdasarkan kalender yang telah ada.

St. Gregorius dari Nazianzus, Bapa Gereja dan Uskup, selama tinggal di daerah Seleucia di Isauria (Turki sekarang) merayakan Natal untuk pertama kalinya di Konstantinopel pada tanggal 25 Desember 379.

St. Yohanes Krisostomos, Bapa Gereja dan Uskup, berkhotbah di Antiokia pada tanggal 20 Desember 386 dan karena kefasihan pewartaannya, ia berhasil mengajak umat beriman untuk menghadiri Natal 25 Desember 386. Sejumlah besar umat beriman hadir di Gereja ketika Natal dirayakan. Kita memiliki salinan khotbah St. Yohanes Krisostomos. Pada Pengantar khotbah, ia berkata bahwa ia berharap dapat berbicara kepada mereka mengenai perayaan Natal yang telah menjadi kontroversi besar di Antiokia. Dia mengusulkan kepada para pendengarnya untuk menghormati dan merayakan Natal dengan tiga dasar: Pertama, karena Natal telah menyebar dengan cepat dan pesat dan telah diterima dengan baik di berbagai daerah. Kedua, karena waktu pelaksanaan sensus pada tahun kelahiran Yesus dapat ditentukan dari berbagai dokumen kuno yang tersimpan di Roma; Ketiga, waktu kelahiran Tuhan Yesus dapat dihitung dari peristiwa penampakan malaikat kepada Zakarias, ayah Yohanes Pembaptis, di Bait Allah. Zakarias, sebagai Imam Agung, masuk ke dalam Tempat Mahakudus pada Hari Penebusan Dosa Yahudi (The Jewish Day of Atonement). Hari tersebut jatuh pada bulan September menurut kalender Gregorian. Enam bulan sesudah peristiwa ini, malaikat Gabriel datang kepada Maria dan enam bulan kemudian Yesus Kristus lahir, yaitu pada bulan Desember. St. Yohanes Krisostomos menyimpulkan khotbahnya dengan sanggahan telak terhadap orang-orang yang menolak bahwa Sang Allah telah menjadi manusia dan tinggal di dunia. St. Yohanes Krisostomos, dengan mengacu pada khotbah di atas, mengatakan dengan jelas bahwa pada masa tersebut, ketika perayaan Natal diperkenalkan di Timur, Natal telah dirayakan di Roma lebih dulu.

Melihat pemaparan di atas, saya sangat yakin bahwa Tuhan Yesus sungguh lahir pada tanggal 25 Desember. Tetapi saya juga sangat sadar bahwa Natal bukan sekadar soal tanggal lahir Tuhan Yesus.

Banyak orang-orang yang menolak dan skeptis terhadap Natal berusaha untuk mendiskreditkan Natal bahkan membuat mitos bahwa Natal adalah hasil adopsi dari perayaan pagan bernama Dies Natalis Solis Invicti yang sebenarnya ditetapkan Kaisar Aurelianus pada 25 Desember 274 untuk menandingi Natal Gereja Katolik. Bagaimanapun juga, pendiskreditan ini menunjukkan kesalahpahaman mengenai tentang apa itu Natal. Dalam Gereja, Natal adalah sebuah Hari Raya yang ditetapkan oleh Gereja untuk merayakan dan mengenang bahwa Allah  yang menjadi manusia tanpa kehilangan ke-Allah-anNya kini telah lahir untuk menyelamatkan kita dari dosa dan menebus dunia. Allah yang mahakasih itu menjadi seorang bayi kecil, lahir dari rahim seorang Perawan untuk membebaskan kita dari kematian dan dosa, inilah yang dinubuatkan Para Nabi di Perjanjian Lama.


Mereka yang menolak  atau skeptis terhadap Natal berpikir terlalu banyak mengenai istilah teknis dan angka-angka sedangkan mereka kehilangan makna dari Natal itu sendiri. Makna Natal bukanlah mengenai akte kelahiran lengkap dengan isinya, tetapi mengenai cinta kasih dari Allah yang telah menjadi manusia bagi kita.

Demikianlah secara singkat asal-usul Perayaan Natal yang kita rayakan 25 Desember setiap tahunnya. Perayaan Natal memang memiliki asal usul yang sangat tua dan telah dirayakan sejak zaman Gereja Perdana. Natal bukanlah perayaan pagan yang diadopsi masuk ke dalam Kekristenan, tetapi Natal adalah Perayaan Misteri Iman yang berasal dari dalam Kekristenan itu sendiri.


Apakah Natal itu Hasil Adopsi dari Perayaan Pagan Romawi?


Bila kita melihat artikel dari blog ini sebelumnya yang berjudul “Asal Usul Perayaan Natal”, maka kita akan melihat fakta menarik bahwa tanggal 25 Desember adalah hasil dari usaha-usaha Para Bapa Gereja berdasarkan perhitungan kalender dan studi sejarah untuk mencari tahu mengenai tanggal kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan perayaan pagan non-Katolik. Tetapi, banyak umat Kristen dan non-Kristen menganggap bahwa perayaan kelahiran Yesus Kristus pada tanggal 25 Desember adalah sebuah bentuk adopsi terhadap perayaan pagan kekaisaran romawi. Bahkan sejumlah umat non-Kristen menuduh Kaisar Konstantinus Agung menetapkan pada Konsili Nicea 325 M supaya Natal dirayakan pada tanggal 25 Desember sebagai bentuk adopsi terhadap perayaan pagan ke dalam Kekristenan. Mitos ini begitu terpatri kuat dalam benak banyak orang bahkan banyak umat Katolik sendiri terpengaruh dengan hal ini. 

Pertama-tama, dokumen Konsili Nicea I pada tahun 325 M sama sekali tidak berisi apapun mengenai Perayaan Natal. Silahkan cek isi Konsili Nicea I di artikel ini. Entah dari mana datangnya tuduhan bahwa Kaisar Konstantinus adalah orang yang menetapkan Natal. Terlihat sekali ada usaha untuk mendiskreditkan Katolik dengan menuduh demikian.

Kedua, Natal bukanlah sebuah perayaan yang diadopsi dari perayaan pagan Kekaisaran Romawi. Penjelasan mengenai hal ini cukup panjang.

Pendapat bahwa Natal diadopsi dari perayaan pagan muncul pada abad ke-17 dari kalangan Protestan aliran Puritan di Inggris dan Presbiterian di Skotlandia. Kedua denominasi Protestan ini sangat membenci banyak hal-hal berbau Katolik atau yang memiliki asal-usul dari Gereja Katolik. Kemudian, seorang pendeta Protestan berkebangsaan Jerman bernama Paul Ernst Jablonski mendukung pernyataan dua denominasi di atas dengan mengatakan bahwa perayaan Natal adalah perayaan pagan romawi yang mengkorupsi dan memaganisasi Kekristenan yang murni.

Klaim-klaim yang dipaparkan adalah bahwa Natal diadopsi dari dua perayaan pagan, Perayaan Saturnalia untuk menyembah Dewa Saturnus dan Dies Natalis Solis Invicti (Birth of Unconquered Sun / Kelahiran Matahari tak tertaklukkan).

Banyak mitos beredar bahwa Saturnalia dirayakan pada tanggal 25 Desember sehingga orang-orang menganggap Natal diadopsi dari perayaan Saturnalia ini karena tanggalnya sama. Tetapi tidak seperti itu faktanya.

Perayaan Saturnalia adalah perayaan romawi kuno untuk penyembahan terhadap Dewa Saturnus. Pada permulaan bulan Desember, para petani sudah harus menyelesaikan segala aktivitas pertanian musim gugurnya (De Re Rustica, III.14) dan kemudian dilanjutkan dengan penyembahan terhadap Saturnus dengan sebuah perayaan bernama Saturnalia. Saturnalia resminya dirayakan pada tanggal 17 Desember hingga 23 Desember. Kaisar Augustus menguranginya menjadi tiga hari sehingga instansi-instansi sipil tidak perlu tutup lebih lama dari seharusnya, dan Kaisar Kaligula menambahkannya menjadi lima (Suetonius, XVII; Cassius Dio, LIX. 6). Terakhir, Kaisar Klaudis mengembalikan perayaan ini seperti semula. (Dio, LX.25). Jadi, mengapa dikatakan Natal diadopsi dari Saturnalia? Tidak ada tanggal 25 Desember pada Perayaan Saturnalia ini.

Perayaan Dies Natalis Solis Invicti ini adalah perayaan pagan romawi yang paling sering dijadikan dasar tuduhan bahwa Natal diadopsi dari perayaan Dies Natalis Solis  Invicti. Tuduhan ini sama sekali tidak memiliki substansi sejarah mengingat Natal telah dirayakan secara sederhana di katakombe-katakombe sejak abad-abad awal. [Daniel Rops, Prières des Premiers Chrétiens, Paris: Fayard, 1952, pp. 125-127, 228-229]. Fakta berbicara sebaliknya dari mitos ini. Perayaan Dies Natalis Solis Invicti ini justru adalah perayaan pagan yang ditetapkan untuk menandingi perayaan Natal Gereja Perdana (Gereja Katolik).

Kaisar Aurelianus yang memerintah dari tahun 270 M hingga tahun 275 M sangat membenci Kekristenan. Dia menetapkan Dies Natalis Solis Invicti pada tanggal 25 Desember 274 sebagai alat untuk mempersatukan kultus-kultus pemujaan pagan di sekitar Kekaisaran Romawi untuk merayakan “kelahiran kembali” matahari. Aurelianus memimpin sebuah kekaisaran yang nyaris runtuh akibat perpecahan internal, pemberontakan-pemberontakan, krisis ekonomi, dan serangan-serangan dari suku bangsa German di utara dan Kerajaan Persia di timur.

Dalam menetapkan perayaan baru ini, Aurelianus berharap “kelahiran kembali” matahari menjadi simbol harapan bagi “kelahiran kembali” Kekaisaran Romawi dengan merayakan penyembahan terhadap dewa yang menurut mereka telah membawa kekaisaran Romawi ke dalam kebesaran dan kejayaan di dunia.

Penetapan perayaan pagan pada tanggal 25 Desember 274 ini oleh Aurelianus bukan hanya sekadar manuver politik saja tetapi juga sebuah usaha untuk memberikan signifikansi pagan terhadap tanggal 25 Desember yang merupakan salah satu tanggal penting Gereja Perdana (Gereja Perdana=Gereja Katolik). Perkembangan Gereja Katolik yang pesat sejak kelahirannya pada tahun 33 M saat Pentakosta semakin hari semakin memberi dampak dan pengaruh yang besar terhadap Kekaisaran Romawi. Hal ini menurut Aurelianus dan beberapa Kaisar Romawi lainnya perlu dihilangkan. Penetapan Dies Natalis Solis Invicti ini dapat kita katakan sebagai salah satu usaha Aurelianus untuk menandingi perayaan Natal Gereja Katolik yang merayakan kelahiran Sang Terang Abadi dan Tak Tertaklukan, Yesus Kristus.


Terlepas dari pasti atau tidak pastinya tanggal 25 Desember sebagai tanggal asli kelahiran Kristus, Natal tetaplah merupakan Hari Raya yang ditetapkan Gereja Katolik untuk merayakan kelahiran Kristus berdasarkan usaha-usaha Para Bapa Gereja untuk menemukan tanggal historis kelahiran Yesus Kristus. Natal sama sekali bukan perayaan pagan yang diadopsi ke dalam Kekristenan tetapi sebuah perayaan yang berasal dari dalam Gereja Katolik sendiri. Pernyataan bahwa Natal adalah perayaan pagan yang diadopsi oleh Gereja Katolik adalah pernyataan yang sama sekali merupakan sebuah mitos.

Referensi: 
1. Christmas Was Never a Pagan Holiday by Marian T. Horvath, Ph. D. 
2. Calculating Christmas by William J. Tighe (Professor Sejarah dari Muhlenberg  College di Allentown, Pennsylvania), diterbitkan di majalah Touchstone December 2003
3. Newsletter of Pope John Paul II Society of Evangelists December 2007

Pax et Bonum 

Thursday, November 29, 2012

Kesaksian Katolik - Dari Saksi Yehowa Ke Gereja Katolik


Kesaksian Katolik - Dari Saksi Yehowa Ke Gereja Katolik



Kisah Jeffery Schwehm – Pemilik Situs Katolik Eks-Saksi Yehowa


Saya terlahir di New Orleans, Louisiana pada tahun 1967. Keluarga ayah saya adalah Katolik dan keluarga ibu saya adalah Lutheran (Lutheran Church Missouri Synod – LCMS). Ibu saya adalah pemimpin spiritual di keluarga kami. Saya bisa mengingat saya menghadiri sekolah minggu di gereja Lutheran dan saya juga ingat saya menghadiri kindergarten di gereja Lutheran di New Orleans. Ibu saya adalah seorang Lutheran yang sungguh aktif. Ia mengajar sekolah Minggu kepada anak-anak kecil dan adalah “room mother” bagi kelas kindergarten saya. Saya dapat mengingat saya diajarkan untuk mencintai Kristus dan Kitab Suci. Saya tahu bahwa saya telah dibaptis ketika saya masih bayi dan bahwa Yesus mencintai saya. Saya ingat gereja menjadi tempat yang menyenangkan untuk dihadiri dan saya secara khusus menikmati waktu dengan ibu saya dan anggota keluarga lainnya dari pihak ibu saya di gereja. Hal ini semua berubah ketika nenek saya dari pihak ibu meninggal. Saya berusia sekitar 5 tahun pada waktu itu.


Dalam satu tahun setelah kematian nenek saya, ibu saya telah berhenti mengikuti gereja Lutheran dan mulai mengikuti Balai Kerajaan Saksi-saksi Yehowa. Selama masa ini, ayah saya ingin membawa kami anak-anaknya ke Misa Katolik pada waktu tertentu di mana kami anak-anaknya semua akan segera tertidur pulas. Saya tidak tahu bahwa ibu saya tidak lagi mengikuti gereja Lutheran sehingga saya memohon kepadanya untuk kembali ke gereja Lutheran itu. Bagaimanapun juga, dengan segera seluruh keluarga saya mulai mengikuti Balai Kerajaan Saksi-saksi Yehowa dan dalam sekitar 3 tahun, ayah saya, orang tua ayah saya dan salah seorang saudari ayah saya (semuanya Katolik) meninggalkan iman Katolik dan menjadi Saksi Yehowa.

Jadi, dari masa saya berusia 5 tahun sampai 29 tahun, saya adalah seorang Saksi Yehowa. Sebagai seorang Saksi Yehowa, saya menghadiri lima kali pertemuan selama seminggu. Tidak ada layanan peribadatan. Semua pertemuan ini adalah kelas yang didesain untuk mengajarkan bagaimana membawa orang-orang beragama lain pindah menjadi Saksi Yehowa. Saya sungguh mengerjakan hal itu dengan baik. Saya mulai pergi dari pintu ke pintu mendistribusikan literatur Watchtower ketika saya masih berusia 6 tahun. Saya memberikan khotbah pertama saya di depan jemaat pada usia 8 tahun. Pada saat saya berusia 19 tahun, saya memberikan presentasi di konvensi Para Saksi Yehowa yang dihadiri oleh ribuan Saksi Yehowa. Setelah sekolah tinggi, saya menjadi pelayan pioneer Saksi Yehowa, yang berarti saya menghabiskan 1000jam/tahun pergi berkarya dari pintu ke pintu. Dengan segera, saya diundang untuk melayani di Kantor Pusat dari Saksi Yehowa Se-dunia di Brooklyn, New York, yang mana menjadi tempat saya bertemu dengan wanita yang kelak akan menjadi istri saya, Kathy. Saya menghabiskan waktu setahun di sana.

Kathy dan saya pindah ke Lousiana setelah meninggalkan kantor pusat dan kami menikah pada Agustus 1988. Saya mulai mengikuti kuliah dan mendapat sebuah gelar sarjana di ilmu kimia dari Universitas Lousiana Tenggara pada tahun 1993. Kathy dan saya kemudian pindah ke Arkansas pada tahun 1994 sehingga saya dapat mengikuti sekolah pasca-sarjana di Universitas Arkansas. Saya membaktikan seluruh waktu saya untuk studi-studi pasca-sarjana di bidang biokimia dan meninggalkan Allah di belakang. Kami hidup selama beberapa tahun dalam masa yang Kathy gambarkan sebagai “limbo rohani” di mana saya bahkan mempertanyakan cinta kasih Allah kepada saya. Seperti orang-orang Israel, saya memiliki sebuah memori singkat mengenai semua berkat Allah yang diberikan kepada saya, salah seorang putra-Nya, yang tidak mengenal-Nya dengan baik.

Namun, Allah mengizinkan saya untuk terlibat diskusi dengan banyak orang Kristen, kebanyakan orang-orang Protestan, di internet selama masa ini dan diskusi-diskusi mereka dengan saya sungguh sangat membantu. Pada beberapa poin, Kathy dan saya berdua mengekpresikan keyakinan kami kepada Allah dan keinginan kami untuk menyembah bersama dengan umat beriman lain. Sekitar masa ini, saya mulai melakukan riset di area doktrinal yang besar di mana Saksi Yehowa dan orang-orang Kristen umumnya tidak saling setuju dan menyadari bahwa gereja-gereja Kristen jalur utama menggambarkan ajaran-ajaran iman Kristiani historis lebih baik daripada Saksi-saksi Yehowa.

Kathy dan saya ingin menemukan sebuah gereja untuk saya ikuti dan saya telah berbicara dengan sanak saudara Lutheran saya sehingga saya memutuskan bahwa kami sebaiknya menjadi anggota gereja Lutheran. Dengan segera, kami mengikuti sebuah gereja Lutheran di Arkansas yang menjadi anggota Gereja Lutheran Sinode Missouri. Kami bergabung dengan gereja tersebut sekitar satu tahun sebelum saya menyelesaikan sekolah pasca-sarjana saya. Sekali waktu saya menyelesaikan sekolah pascasarjana saya, saya mulai mengajar di Universitas Concordia di Seward, Nebraska pada bulan Januari 1999. Kampus ini adalah bagia dari Sistem Universitas Concordia yang dimiliki dan dijalankan oleh Gereja Lutheran Sinode Missouri. Setelah tiba di Nebraska, Kathy dan saya berpikir bahwa kami akhirnya “telah berada di rumah”. Bagaimanapun juga, Allah ingin memberikan kami lebih banyak.

Ketika pertama kali kami pindah ke Seward, Nebraska, orang-orang Mormon baru saja memulai membangun sebuah gereja di kota kecil ini. Mereka telah dikunjungi oleh banyak umat Lutheran sehingga gereja Lutheran lokal memutuskan untuk mengajarkan kelas Sekolah Minggu mengenai ajaran-ajaran Mormon [demi menghindari perpindahan umat Lutheran ke Mormon]. Salah satu komentar dari Pastor yang memimpin diskusi adalah bahwa gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus akan selalu ada dan tidak akan pernah dihancurkan. Dia membuat poin ini karena Mormon mengajarkan (sama seperti Saksi Yehowa) bahwa gereja perdana telah jatuh murtad pada suatu titik waktu tertentu dalam sejarahnya dan bahwa Allah memilih Joseph Smith (Saksi Yehowa akan berkata Charles Russell) untuk mengembalikan gereja-Nya yang benar di bumi. Pastor itu mengutip ayat ini:

“Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” – Mat 16:18

Saya duduk di sebelah Kathy dan saya mengambil selembar kertas dan mengajukan pertanyaan. “Bila ini benar, maka apa yang sedang dilakukan oleh Luther ketika dia memisahkan diri dari Gereja Katolik?” Adalah juga “dengan keras” selama masa ini bahwa saya mulai untuk mencoba membagi iman Kristiani yang baru saya temukan dengan beberapa teman saya yang baru saja meninggalkan Saksi Yehowa. Saya mencoba untuk menunjukkan kepada mereka bahwa beberapa ajaran tertentu seperti Trinitas, immortalitas jiwa, dll adalah ajaran-ajaran iman Kristiani yang benar dan bahwa Saksi Yehowa salah menolak ajaran-ajaran ini. Saya menggunakan Kitab Suci untuk membuktikan ajaran-ajaran itu kepada mereka. Respon mereka, “Bagaimana saya tahu penafsiran kamu adalah benar karena ketika kami dulu Saksi Yehowa, kami akan menafsirkan ayat-ayat itu 180 derajat bertentangan?”

Jadi, saya berkata kepada diri saya sendiri, “Saya bertaruh ada tulisan-tulisan lain dari orang-orang Kristiani yang berada di sekitar masa Para Rasul yang dapat memberikan terang mengenai apa yang Gereja Perdana sungguh percayai.” Jadi, saya mulai membaca tulisan Para Bapa Gereja. Pertama, saya membaca beberapa surat yang ditulis sekitar tahun 98 AD oleh seorang Uskup Kristiani bernama Ignatius. Dalam suratnya, dia berbicara mengenai Kehadiran Nyata Kristus dalam Sakramen Ekaristi dan dia mengajarkan Yesus adalah Allah. Bagaimanapun, Ignatius juga menggambarkan Gereja Perdana sebagai “Gereja Katolik” dan dia berkata bahwa “gereja yang benar adalah gereja di mana uskup berada”. Sebagai seorang Lutheran kami tidak memiliki uskup [yang valid], saya menemukan pemahaman mengenai Gereja ini menyulitkan. Saya juga membaca sebuah buku ditulis oleh seorang uskup abad ke-3 bernama Eusebius mengenai sejarah Gereja Kristiani. Eusebius menggambarkan gereja perdana sedemikian rupa sehingga saya dapat lihat bahwa gereja perdana terlihat lebih banyak kemiripan dengan Gereja Katolik. Perbedaan utama adalah bahwa Gereja Katolik pada masa ini jauh lebih besar [dari Gereja Perdana].

Saya bahkan membaca sebuah buku sejarah gereja di mana sejarahwan Protestan mengakui bahwa Gereja menggunakan suksesi apostolik (meskipun dia tidak menyebut demikian, tetapi ia menggambarkan bagaimana suksesi apostolik ini bekerja) untuk melawan ajaran-ajaran sesat pada abad ke-2. Dan, saya menemukan bahwa jika bukan karena Gereja Katoliksaya tidak akan tahu kitab apa saja yang termasuk ke dalam Perjanjian Baru karena mereka (Gereja Katolik) memutuskannya untuk saya di sekitar abad ke-4 setelah Kristus!

Sekarang, kamu mungkin akan berpikir bahwa dengan semua data ini, saya segera akan menjadi Katolik saat itu juga. Tetapi, jawabannya adalah tidak. Pada waktu itu, saya bertemu kembali dengan seorang teman dari sekolah tinggi. Namanya adalah Jim. Sekarang ia adalah Romo Jim dan ia adalah seorang Imam Katolik. Romo Jim sendiri adalah seorang yang berpindah ke dalam Gereja Katolik. Ia dibesarkan sebagai seorang umat Presbiterian. Romo Jim dan saya melakukan diskusi-diskusi mendalam mengenai ajaran agama dan sejarah melalui email dan kami seringkali saling setuju. Romo Jim berkata bahwa saya lebih Katolik daripada beberapa umat parokinya. Tetapi, saya selalu berkata,“Saya belum siap untuk menyeberangi sungai Tiber.” Dan dia berkata, “Apa yang Roh Kudus harus lakukan? Memukul kepalamu dengan sebuah 2 x 4?” Akhirnya Romo Jim menantang saya untuk membaca Katekismus Gereja Katolik dan berkata bila saya menemukan apapun yang salah dengan KGK itu, beritahu kepadanya; dan bila saya tidak menemukan kesalahan berarti saya tahu apa yang harus saya lakukan. Jadi, selama musim panan 2002, saya menyelesaikan membaca Katekismus Gereja Katolik dan beberapa buku lainnya yang ditulis oleh Scott Hahn dan setelah waktu ini, Allah akhirnya menemukan 2x4-nya. Saya pulang ke rumah dan memberitahu istri saya bahwa ini adalah saatnya saya menjadi Katolik.

Kathy dan saya setuju untuk mengikuti program RCIA (katekumenat) di Katedral Kristus Bangkit di Lincoln, Nebraska. Program ini mengajarkan saya bagaimana menjadi Katolik dalam sense yang berbeda sejak saya menjadi seorang Katolik dalam sense akademik. Sementara saya mengikuti RCIA, saya diajarkan bagaimana mengikuti Misa Kudus dan bagaimana cara untuk berdoa Rosario serta Ibadat Harian. Selama waktu ini, istri saya, Kathy, juga menyadari bahwa masa itu adalah saatnya ia pulang ke dalam Gereja Katolik. Jadi, pada Malam Paskah tahun 2003, Kathy pulang kembali ke Gereja Katolik dan pada Minggu Pentakosta tahun 2003, saya mendapatkan keistimewaan untuk memasuki Gereja Katolik yang kudus juga.



Pax et Bonum 
[+In Cruce Salus, Pada Salib Ada Keselamatan.]

Wednesday, November 14, 2012

We must empty Purgatory with Our Prayers - St. Padre Pio


Api penyucian, atau disebut juga Purgatorium, telah diajarkan sejak jaman para Rasul. Api penyucian ada semata-mata karena belas kasih Allah. Persyaratan untuk masuk ke dalam surga begitu sulit karena “tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis” (Why 21:27). Agar dapat langsung menuju surga, kita harus sepenuhnya bebas dari noda dosa. Artinya bahwa kita harus dalam keadaan rahmat, bebas dari dosa-dosa ringan, telah sepenuhnya melunasi penitensi dan siksa dosa temporal atas segala dosa kita, serta bebas dari keterikatan duniawi yang menjauhkan kita dari Tuhan (misalnya: harta benda, dendam, dsb). Begitulah, kita dapat melihat betapa sulitnya menghindari api penyucian, tetapi dengan pertolongan rahmat Tuhan, kita dapat melakukannya!

Proses pemurnian di api penyucian sangat menyakitkan. Jiwa-jiwa di sana melihat bagaimana dosa telah memisahkan mereka dari Tuhan dan mereka menyesali secara mendalam apa yang telah mereka lakukan. Bahkan dosa ringan sekalipun menyebabkan mereka menderita, sebab seringan apapun dosa, dosa tersebut merupakan penghinaan terhadap Allah karena ketidaktaan pada kehendak-Nya. Jiwa-jiwa menderita memiliki kerinduan yang kuat untuk berada di surga, tetapi mereka tak dapat, karena ketaklayakan mereka. Hal ini juga mengakibatkan sengsara hebat dalam diri mereka. Jiwa-jiwa memohon, “Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN! Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku.” (Mzm 130:1-2).


Mengapa Berdoa bagi Jiwa-jiwa Menderita di Api Penyucian? 
Berdoa bagi mereka yang telah meninggal dunia bukan saja bermanfaat, tetapi juga amat penting. Sayang sekali kebiasaan ini hampir terabaikan. Kita telah lupa bahwa Gereja Katolik terdiri dari tiga bagian yang tak terpisahkan: GEREJA PEJUANG (kita di dunia, yang setiap hari berjuang demi keselamatan kita), GEREJA MENDERITA (jiwa-jiwa di api penyucian) dan GEREJA JAYA (para malaikat dan para kudus di surga). Ketiga gereja tersebut membentuk Tubuh Mistik Kristus dan saling bekerja sama dalam mempertahankan pondasi gereja.

Bagaimana Kita Menolong Jiwa-jiwa Menderita?
Sebagai warga Gereja Pejuang, sungguh penting bagi kita untuk membangkitkan kembali praktek Devosi bagi Jiwa-jiwa di Api Penyucian. Jiwa-jiwa menderita di purgatorium tidak lagi dapat berdoa bagi diri mereka sendiri, mereka sama sekali tergantung pada kita. Jika kita tidak berdoa bagi mereka, maka mereka akan terlantar. Oleh sebab itu, selayaknyalah kita berusaha sebaik-baiknya menolong agar mereka segera terbebas dari siksa sementara api penyucian. Jiwa-jiwa yang dihantar masuk ke dalam Kerajaan Allah melalui doa dan kurban kita bagi mereka sementara kita di dunia, kelak akan menjadi sahabat-sahabat kita selama-lamanya di surga! Mereka akan terus menjadi pendoa yang berdayaguna bagi kita semasa kita di dunia begitu mereka masuk dalam persekutuan surgawi dan penuh sukacita menjadi warga Gereja Jaya.


Ada berbagai cara di mana kita dapat menolong jiwa-jiwa di api penyucian:
1. Misa Kudus  -Misa Kudus merupakan sarana yang paling mujarab dan paling tepat untuk mendoakan jiwa-jiwa. Sebab, dalam Misa Kudus kita merayakan kembali kenangan sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus demi penebusan dosa segenap umat manusia, baik yang hidup maupun yang telah meninggal dunia dan masih tinggal di api penyucian.
2. Doa Rosario bagi keselamatan jiwa-jiwa di api penyucian: Rosario Arwah.
3. Devosi Kerahiman Ilahi: Koronka. 
4. Perbuatan baik, tindakan amal kasih, kurban dan silih. Setiap kali melakukannya, ingatlah untuk mengatakan dalam hati, “Yesus, ini demi jiwa-jiwa di api penyucian.” Atau, kita dapat memilih hari-hari tertentu dan menetapkan bahwa kita akan mempersembahkan segala hal baik yang kita lakukan pada hari itu demi pembebasan jiwa-jiwa di api penyucian.
5. Ibadat / Renungan Sengsara Yesus, misalnya Jalan Salib.
6. Indulgensi bagi jiwa-jiwa di purgatorium. Doa atau ibadah khusus guna mendapatkan indulgensi, baik indulgensi seluruhnya ataupun sebagian, bagi jiwa-jiwa di api penyucian dapat kita lakukan seturut peraturan / ketentuan Gereja. Dengan indulgensi, kita mendatangkan rahmat berlimpah dari “gudang harta pusaka Gereja” bagi jiwa-jiwa menderita.
7. Tindakan menghormati mereka yang meninggal, misalnya: merawat jenazah / makam, kunjungan ke makam, tabur bunga, doa, dll.


Doa-doa Singkat bagi Pembebasan Jiwa-jiwa. 

Pada tanggal 13 Juli 1917, anak-anak dari Fatima - Lusia, Yasinta dan Fransesko - diperkenankan melihat api neraka. Begitu ngeri dan dahsyat penglihatan itu, hingga anak-anak gemetar ketakutan. Bunda Maria berkata penuh iba dan sedih, “Kalian telah melihat tempat ke mana jiwa-jiwa para pendosa akan pergi. Keadaan ini kiranya bisa menjadi satu permohonan sederhana di antara peristiwa-peristiwa doa Rosario. Kemudian doa ini diajarkan kepada anak-anak, “Ya Yesus yang baik, ampunilah dosa-dosa kami, selamatkanlah kami dari api neraka, hantarlah jiwa-jiwa ke surga, terlebih mereka yang sangat membutuhkan kerahiman-Mu.” 

Dalam suatu wahyu pribadi, Kristus mengatakan kepada St Gertrude Agung bahwa doa berikut akan membebaskan 1000 jiwa dari api penyucian setiap kali didoakan: “Bapa yang kekal, aku persembahkan kepada-Mu, Darah Mahasuci Putramu yang ilahi, Yesus Kristus, dalam persatuan dengan semua Misa yang dipersembahkan di seluruh dunia pada hari ini, bagi segenap jiwa-jiwa menderita dalam api penyucian, bagi para pendosa di mana pun mereka berada, bagi para pendosa dalam Gereja Universal, bagi mereka dalam rumahku dan dalam keluargaku. Amin.” 

Bunda Maria dan Jiwa-jiwa di Api Penyucian
Bunda Maria memainkan peran penting dalam pembebasan jiwa-jiwa dari api penyucian. St Bernardus menyebutnya sebagai “Plenipotentiary”, artinya ia yang “sangat berkuasa” atas api penyucian, sebab Bunda Maria mendapatkan rahmat dan kuasa dari Tuhan untuk membebaskan jiwa-jiwa yang ada di sana. Kita semua adalah anak-anak Maria, dan layaknya seorang ibunda yang penuh belas kasih, ia memelihara kita, teristimewa mereka yang menderita. Perantaraannya mendatangkan pertolongan bagi jiwa-jiwa menderita, seperti diungkapkan Bunda Maria kepada Beato Alain de la Roche: “Akulah Bunda dari jiwa-jiwa di api penyucian dan setiap doa yang ditujukan kepadaku meringankan penderitaan anak-anakku.”

St Pompilio Pirroti memiliki devosi mendalam bagi jiwa-jiwa menderita. Apabila ia berdoa rosario, jiwa-jiwa menderita berdoa bersamanya, berseru menanggapi setiap Salam Maria yang didaraskannya. Jiwa-jiwa di api penyucian menjadi tenang dan penuh sukacita saat rosario didaraskan.

St Louis de Montfort dalam bukunya, “Rahasia Rosario”, menulis tentang seorang wanita yang dibebaskan dari api penyucian. Seorang wanita muda dari kalangan bangsawan bernama Alexandra dipertobatkan oleh St Dominikus dan bergabung dalam Persekutuan Doa Rosario. Ketika Alexandra meninggal dunia, ia menampakkan diri kepada St Dominikus dan mengatakan kepadanya bahwa :

Ia harus tinggal 700 tahun lamanya di api penyucian guna memurnikan jiwanya oleh karena dosa-dosanya yang begitu banyak semasa hidupnya dan juga karena ia menyebabkan banyak orang berbuat dosa dengan teladan hidupnya yang buruk. Ia mohon pada St Dominikus dan pada para anggota Persekutuan Doa Rosario agar berdoa baginya. Tentu saja St Dominikus memenuhi permintaannya dan berdoa bersama para pendoa rosario lainnya. Dua minggu kemudian, Alexandra menampakkan diri kembali pada St Dominikus. Kali ini ia penuh kemuliaan surgawi. Ia memberitahukan bahwa dengan perantaraan rosario ia telah dibebaskan dari api penyucian. Ia juga mengatakan kepadanya bahwa jiwa-jiwa menderita mohon padanya untuk terus menyampaikan khotbah tentang rosario dan minta pada sanak-saudara mereka untuk mendoakan mereka melalui rosario. Jiwa-jiwa malang itu akan membalas jasa mereka yang telah menolongnya apabila jiwa-jiwa itu telah berada di surga.

Para Kudus dan Jiwa-jiwa di Api Penyucian
Selama berabad-abad, Kristus telah menganugerahkan kepada banyak orang kudus dan pribadi-pribadi kudus yang dipilih-Nya karunia karisma yang memungkinkan seseorang mendapat kunjungan dari jiwa-jiwa di api penyucian. Di antara para kudus tersebut adalah St Gertrude Agung, St Katarina dari Genoveva, St Margareta Maria dari Paray-le-Monial, St Yohanes Maria Vianney, St Faustina Kowalska, St Yohanes Bosco, Maria Simma dan banyak lagi yang lainnya.

Kristus menganugerahkan karunia ini guna meningkatkan kesadaran akan pentingnya berdoa bagi jiwa-jiwa menderita. 

Maria Simma, visioner dari Sonntag - Austria (1915 - wafat Maret 2004) 
Romo Berlioux menceritakan tentang seorang wanita yang mempersembahkan hidupnya demi membantu membebaskan jiwa-jiwa dari api penyucian. Saat menjelang ajalnya, wanita ini diserang dengan dahsyat oleh para iblis yang melihatnya lepas dari cengkeraman mereka. Tampaknya seluruh neraka bersatu melawan dia, mengelilinginya dengan bala pasukan neraka. Wanita ini memberontak sekuat tenaga untuk beberapa waktu lamanya, ketika sekonyong-konyong ia melihat masuk ke dalam kamarnya sejumlah jiwa-jiwa tak dikenal yang bercahaya menyilaukan namun indah, yang membuat para iblis melarikan diri. Dengan tarikan napas terakhirnya wanita itu bertanya penuh suka cita sambil menangis, “Siapakah kalian? Oh, kalian yang amat baik kepadaku?” Para pengunjung menjawab, “Kami adalah jiwa-jiwa yang atas pertolonganmu telah dibimbing ke dalam kebahagiaan surgawi. Kami datang dengan penuh rasa terima kasih untuk membantumu menyeberangi batas kekekalan dan membawamu masuk ke dalam sukacita `Kota Kudus'” Mendengar jawab demikian, seulas senyum tampak menghiasi wajah si wanita dan matanya pun tertutup dalam damai. Jiwanya yang murni bagai merpati dipersembahkan kepada Raja Segala Raja dengan banyak pelindung dan pembela.

sumber : 1. “The Confraternity of Souls In Purgatory”; www.users.bigpond.net.au/ecclesia; 2. “For the Love of The Poor Holy Souls in Purgatory”; www.poorsouls.net; 3. “Holy Souls Online”; www.holysouls.info; 4. “Seminar Jiwa-jiwa di Api Penyucian” oleh Rm Yosef Tarong, Pr; 5. berbagai sumber



Saturday, November 10, 2012

St. Athanasius Agung dan Syahadat Athanasian | Indonesian Papist

St. Athanasius Agung dan Syahadat Athanasian | Indonesian Papist


St. Athanasius Agung

Pembela terbesar ajaran Gereja Katolik tentang Tritunggal MahaKudus, Keilahian Yesus Kristus dan misteri Inkarnasi (Penjelmaan) Sang Firman Allah menjadi Manusia adalah Santo Athanasius Agung, Uskup Alexandria, Mesir. Athanasius lahir di Alexandria, kurang lebih pada tahun 293 dan meninggal dunia pada tanggal 2 Mei 373. Beliau dikenal sebagai ‘Doktor Ortodoksi’ karena perjuangannya yang besar dalam membela ajaran-ajaran iman yang lurus dan menentang ajaran-ajaran sesat yang berkembang pada masa itu.


St. Athanasius lahir di kota Alexandria (sekarang di Mesir) pada tahun 293 M dari keluarga Yunani beragama Katolik. Kotanya, Alexandria, pada masa itu adalah pusat ilmu pengetahuan terkemuka. St. Athanasius pada masa mudanya telah belajar banyak ilmu filsafat, teologi dan Kitab Suci serta karya-karya umum lainnya. Pada tahun 318, St. Athanasius ditahbiskan menjadi diakon, dan ditunjuk sebagai sekretaris Uskup Alexandria, St. Alexander. St. Alexander sendiri adalah seorang uskup tua yang juga turut membela ajaran tentang Tritunggal Mahakudus, Keilahian Yesus Kristus dan misteri Inkarnasi.

Sebagai sekretaris Uskup, ia berhubungan erat dengan para rahib padang gurun, seperti Santo Antonius, sang pertapa dari Mesir.  St. Athanasius sendiri sangat tertarik sekali dengan kehidupan para rahib itu. Akhirnya dia sendiri pun meneladani cara hidup para pertapa itu dan menjadi seorang pendoa besar.

Pada masa diakonatnya, bidaah Arianisme mulai menyebar luas. Arianisme ini dicetuskan oleh seorang imam bernama Arius dari Alexandria yang sebenarnya mengambil dasar ajaran dari imam pendahulunya Lucian dari Samosata, seorang imam dari Keuskupan Antiokia. Arianisme mengajarkan bahwa Yesus, Sang Firman Allah, diciptakan oleh Allah Bapa sehingga Yesus tidak sehakikat dan tidak setara dengan Allah Bapa.

Menanggapi ajaran sesat Arianisme, St. Athanasius bersama St. Alexander, uskupnya, pergi menghadiri Konsili Nicea (sekarang: Iznik, Turki) yang diprakarsai oleh Kaisar Konstantinus Agung pada tahun 325 M. Konsili ini sendiri dipimpin oleh Uskup Hossius dari Cordoba (Spanyol) sebagai wakil  Paus St. Silvester bersama dengan dua orang imam utusan resmi Paus, yaitu  Romo Vitus dan Romo Vinsensius. Dalam konsili itu, St. Athanasius terlibat aktif dalam diskusi-diskusi mengenai Keilahian Yesus Kristus,Pribadi kedua dalam Tritunggal MahaKudus. Pada Konsili Nicea ajaran bahwa Yesus adalah Allah yang setara dan sehakikat dengan Allah Bapa diteguhkan menghadapi ajaran Arius. Pada konsili ini, Arius diekskomunikasi Gereja.

Sekembali dari konsili itu, peranan St. Athanasius semakin terasa penting, terutama setelah meninggalnya Uskup St. Alexander enam bulan kemudian. Sebagai pengganti Uskup St. Alexander, St. Athanasius dipilih menjadi Uskup Alexandria. Dalam tugasnya sebagai uskup, St. Athanasius mengunjungi seluruh wilayah keuskupannya, termasuk pertapaan-pertapaan para rahib. Ia mengangkat seorang uskup untuk wilayah Ethiopia. Ia memimpin keuskupannya selama 45 tahun.  Pada masa kepemimpinannya Arianisme mulai timbul lagi di Mesir. Dengan tegas St. Athanasius menentang Arianisme itu.

St. Athanasius membaktikan hidupnya untuk melawan ajaran sesat ini hampir 50 tahun. Di samping St. Athanasius, ada juga St. Hilarius dari Poitiers (Doktor Keilahian Kristus, dijuluki St. Athanasius dari Barat), St. Basilius dari Caesarea (Doktor Kehidupan Membiara) dan St. Gregorius dari Nazianzen (Doktor Para Teolog). Pada masa itu, Para Bapa Gereja tersebut juga berperan besar dalam melawan bidaah Arianisme, tetapi mereka mengakui St. Athanasius sebagai pemimpin mereka. “Athanasian” seringkali digunakan sebagai nama kelompok dari kaum Katolik dalam melawan kelompok “Arian” yang menganut bidaah Arianisme. Nama St. Athanasius kerap didengungkan oleh dua kelompok, baik Katolik maupun Arian. Sinode-sinode kelompok Arian mendeklarasikan bahwa mereka menolak St. Athanasius, sementara itu setiap sinode Gereja Katolik membela dan mendukung St. Athanasius. Di dalam 5 kali masa kekaisaran serta 5 kali masa kepausan, St. Athanasius menjadi  menara penjaga utama yang teguh bagi umat Katolik masa itu yang mengalami kebingungan dan keputusasaan akibat munculnya Arianisme.

St. Athanasius banyak menghadapi tantangan dalam melawan Arianisme. Dalam masa penggembalaannya sebagai Uskup Alexandria, St. Athanasius 5 kali diturunkan secara paksa dan diasingkan oleh kaisar pendukung Arianisme atau oleh kelompok-kelompok Arian yang mendominasi keuskupannya.  Ia kerap kali diberikan tuduhan palsu oleh kelompok-kelompok yang tidak menyukainya. Setiap kali diturunkan, oleh karena dukungan Paus Roma dan Uskup-uskup Katolik lainnya serta umat Alexandria sendiri; St. Athanasius dapat menerima kembali tahta keuskupannya.

St. Athanasius dikenal sebagai seorang uskup yang banyak menulis. Dengan tulisan-tulisannya ia berusaha menerapkan dan membela ajaran iman yang benar. Ia meninggal dunia pada tanggal 2 Mei 373. Oleh karena perannya yang besar, St. Athanasius digelari “The Great” sehingga sering disebut St. Athanasius Agung.


Syahadat Athanasian

Syahadat Athanasian atau sering disebut juga Quicumque vult, adalah salah satu dari empat syahadat otoritatif dalam Gereja Katolik. Di samping Syahadat Athanasian, tiga syahadat lain adalah Syahadat Para Rasul (Syahadat Pendek), Syahadat Nicea-Konstantinopel (Syahadat Panjang) danPengakuan Iman Tridentin (Professio Fidei Tridentinae). Dari keempat syahadat ini, Gereja Katolik memberikan Syahadat Para Rasul dan Syahadat Nicea-Konstantinopel tempat istimewa dalam kehidupan Gereja. (bdk. KGK 194-195). Meskipun demikian, Gereja Katolik tetap menyatakan bahwa Syahadat Athanasian tidak dapat dipandang telah kadaluarsa atau tidak bernilai (bdk. KGK 193). Syahadat Athanasian ini sendiri dengan begitu tegas dan lugas menjelaskan ajaran Tritunggal Mahakudus dan Inkarnasi Sang Firman Allah menjadi manusia.

Syahadat Athanasian umumnya diatributkan kepada St. Athanasius Agung. Meskipun demikian, tidak diketahui secara pasti siapa penulis syahadat ini. Teori umum menyatakan bahwa syahadat ini disusun di selatan Prancis pada abad ke-5 sebagai reaksi atas munculnya Neo-Arianisme.  Pada tahun 1940, “Excerpta” yang hilang karya St. Vincentius dari Lerins ditemukan dan karya ini mengandung banyak isi Syahadat Athanasian sehingga St. Vincentius dari Lerins diduga sebagai penulis syahadat ini. Salinan tertua dari Syahadat Athanasian ini ditemukan dalam koleksi homili Bapa Gereja St. Caesarius dari Arles (468-542).

Karena tidak ditemukan terjemahan resmi Syahadat Athanasian dalam Bahasa Indonesia, maka yang akan dilampirkan berikut ini adalah teks terjemahan tidak resmi Syahadat Athanasian yang diambil dari ekaristi dot org halaman 4 pada postingan Leemanto Shen untuk bagian ajaran mengenai Tritunggal Mahakudus dan untuk bagian ajaran mengenai Inkarnasi (Penjelmaan) Sang Sabda Allah menjadi manusia diterjemahkan oleh Indonesian Papist. Terjemahan Lengkap dalam Bahasa Inggris dapat dilihat di Ensiklopedia Katolik.


“Siapa yang ingin bahagia, dia harus berpegang teguh pada iman Katolik; siapa yang tidak memelihara keseluruhan secara utuh - tak pelak lagi - akan tersesat selamanya.

Inilah iman Katolik: kita menghormati Allah yang tunggal dalam Trinitas dan Trinitas dalam keesaan, tanpa pencampuran Pribadi dan tanpa pemisahan kodrat mereka. Salah satunya adalah Pribadi Bapa, Pribadi yang lain adalah Putra dan Pribadi yang lain lagi adalah Roh Kudus. Akan tetapi Bapa, Putra dan Roh Kudus hanya memiliki satu keilahian, kemuliaan yang sama, keagungan yang sama. Sebagaimana Bapa, demikian pun Putra dan Roh Kudus. Bapa tidak diciptakan, Putra tidak diciptakan, Roh Kudus tidak diciptakan. Bapa tak terselami, Putra tak terselami, Roh Kudus tak terselami. Bapa abadi, Putra abadi, Roh Kudus abadi. Namun mereka bukan tiga Yang kekal, melainkan satu Yang kekal. Mereka juga bukan tiga kenyataan ilahi yang tidak diciptakan dan bukan tiga yang tak terselami melainkan satu yang tak diciptakan dan tak terselami. Bapa mahakuasa, Putra mahakuasa, Roh Kudus mahakuasa, namun bukan ada tiga kenyataan ilahi yang mahakuasa melainkan satu kenyataan ilahi yang mahakuasa. Demikianlah Bapa itu Allah, Putra itu Allah dan Roh Kudus itu Allah, namun bukan ada tiga Allah, melainkan hanya satu Allah. Bapa adalah Tuhan, Putra adalah Tuhan dan Roh Kudus adalah Tuhan, namun tidak terdapat tiga Tuhan, tetapi hanya satu Tuhan. Sebagaimana kita mengakui seturut kebenaran Kristen bahwa setiap Pribadi adalah Allah dan Tuhan, namun Gereja Katolik juga melarang kita untuk mengakui tiga allah dan tuhan. Bapa tidak dihasilkan seorangpun, ataupun diciptakan dan diperanakkan. Putra berasal dari Bapa sendiri, tidak dihasilkan, tidak diciptakan, tetapi diperanakkan. Roh Kudus berasal dari Bapa dan Putera, tidak dihasilkan, tidak diciptakan, tidak diperanakkan, tetapi diasalkan. Jadi terdapat satu Bapa, bukan tiga bapa, satu Putra, bukan tiga putra, satu Roh Kudus, bukan tiga roh kudus. Dan dalam Tritunggal ini tidak ada yang mendahului atau kemudian, tidak ada yang lebih besar atau lebih kecil, tetapi semua tiga Pribadi adalah sama - sama kekal dan agung, sehingga seperti dikatakan bahwa baik keesaan dalam ketigaan maupun ketigaan dalam keesaan haruslah disembah. Siapa yang ingin mencapai kebahagiaan haruslah percaya akan Tritunggal Mahakudus.
Lebih jauh lagi, adalah penting untuk keselamatan kekal, bahwa ia harus mempercayai dengan benar Inkarnasi (Penjelmaan) Tuhan kita Yesus Kristus. Karena iman yang benar adalah bahwa kita mengimani dan mengakui bahwa Tuhan kita Yesus Kristus, Putera Allah, adalah Allah dan Manusia. Allah, kodrat dari Bapa, dilahirkan sebelum segala dunia; dan manusia, dari kodrat ibu-Nya, lahir ke dalam dunia. Allah sempurna dan Manusia sempurna, berada dalam jiwa yang layak dan daging manusia. Setara dengan Sang Bapa dalam hal keilahianNya, lebih rendah dari Sang Bapa dalam hal kemanusiaanNya. Yang sekalipun adalah Allah dan manusia, bukanlah dua tetapi satu Kristus. Tetapi satu, bukan dari perubahan dari keilahianNya menjadi daging, tetapi dari pengambilan kemanusiaanNya ke dalam Allah. Satu bersama-sama, bukan karena percampuran kodrat, tetapi oleh kesatuan pribadi. Karena jiwa yang layak dan daging adalah satu manusia, demikian juga Allah dan manusia adalah satu Kristus. Yang menderita untuk keselamatan kita, turun ke neraka, hari yang ketiga bangkit dari antara orang mati. Ia naik ke surga, Ia duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang mahakuasa, dari sana Ia akan datang untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati. Pada kedatangan-Nya, semua manusia akan bangkit kembali dengan tubuhnya dan akan mempertanggungjawabkan perbuatan mereka sendiri. Dan mereka yang telah berbuat baik akan pergi ke dalam kehidupan kekal; mereka yang telah berbuat jahat ke dalam api yang kekal. Inilah iman Katolik yang mana kecuali seseorang percaya dengan setia dan teguh, ia tidak bisa diselamatkan.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua. Pax et Bonum.
Artikel ini ditulis oleh Indonesian Papist pada Pesta St. Athanasius Agung, 2 Mei 2012.